Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2016

Berakhir Baik

Jika hidup hanya satu hari
Maka, 1 hari itu lebih baik dari 100 hari
Itu karena 100 hari selalu ada dosa

Jika hidup bersama dalam kebohongan
Maka, kebohongan itu yang menghukumi
Itu karena kebohongan adalah hawa nafsunya

Jika hati dibiarkan tanpa zikir
Maka, hati pasti di dalamnya ada penyakit
Itu karena di dalam hatinya ada dusta

Jika duduk bersama dalam khayalan
Maka, duduknya itu ditemani oleh setan
Itu karena setan suka mengkhayal

Adakah hidup yang lebih baik dari itu?
Harusnya pasti ada
Baik itu ada jika tidak diabaikan

Baik itu bukanlah kebohongan
Baik itu adalah kekuatan jiwa orang beriman
Maka, baiknya orang beriman tidak suka berbohong

Hidup akan menjadi lebih baik
Jika selalu mengingat Tuhan
Karena Dia-lah yang telah berketetapan

Kebaikan hidup berakhir baik
Maka, tiada kerugian bagi yang selalu berbuat baik
Sepanjang perbuatan baiknya diridai Allah
Selengkapnya

Minggu, 09 Oktober 2016

Ar-Rahim

Tersebut nama-Nya Ar-Rahim
Adalah Allah Sang Pemiliknya
Terdengar indah nama-Nya itu disebut-sebut
Setiap pagi, petang, siang dan malam
Tak ada rasa yang membosankan
Tidak juga terasa melelahkan
Ar-Rahim terselip dalam hati: Ya Rahim
Duhai Yang Maha Penyayang
Para pezikir khafi selalu menyerunya
Ya Rahim...Ya Rahim...Ya Rahim
Dengan penuh kelembutan 
Dengan penuh ketenteraman
Al-Haq menaburkan rasa cinta-Nya
Derap hati menyebut asma-Nya
Dibalas dengan penuh kemesraan
Tak ada jalinan yang menghanyutkan
Selain memuncak rasa rindu kepada-Nya
Bergetar seluruh jiwa dan raga
Bertaburkan cahaya kasih sayang
Para malaikat sangat merasakan
Ada cinta seorang hamba kepada Tuhannya
Bersahut-sahutan semua hamba menyebut asma-Nya
Ya Rahim...Ya Rahim...Ya Rahim
Hidup dan tetap hidup
Hati seorang hamba yang menyeru-Nya
Rasa ke-ilahi-an semakin tajam
Tertambat rindu yang menenangkan
Semakin kokoh langkah keimanan
Menuju puncak keridaan 
Selengkapnya

Minggu, 26 September 2010

Bahtera Kehidupan Alam Dunia

Bila manusia tak mampu menjual dirinya maka pasti sulit akhirnya,
duhai manusia betapa kerdilnya dirimu di hadapan Allah Yang Mulia.
Luka di hati tak dapat diobati oleh obat dunia,
luka dunia sebaliknya dapat disembuhkan oleh Dia Yang Maha Bijaksana,

Apakah musuh yang nyata bagi manusia?
di kala sekarat manusia hanya lupa pada dirinya.
Siapa yang dapat menolong lupa pada diri manusia?
tak ada satu pun bila bukan Allah Azza wa Jalla.

Bahtera bukan satu-satunya yang dapat memuat manusia,
sekali berlabuh pasti hanya lekas berada di ujung dunia.
Akankah bahtera kehidupan manusia mengantarkan ke hadirat Tuhannya?
hanya Dia yang menentukan nasib umat manusia.

Duhai anak Adam yang penuh durhaka,
sudahkah dirimu berubah laksana bahtera yang berlabuh di dermaga?
Sulit bagimu jika tak ada kata tulus dalam terjaga hatinya,
sipunya keburukan hanya dapat tertawa akan dua dusta, bohong dan tawarnya yang hampa.

Bila sudah begitu adanya akan lari ke mana?
abu sulit kembali jadi kayu yang sama bentuknya.
Segera bergegas adalah jawabnya,
Bila akan menuju Allah Azza wa Jalla.

Selengkapnya

Jumat, 13 Agustus 2010

Kehidupan Manusia

Biar kuhirup udara tanpa mengadu kepada siapa pun,
       Tetapi Hatiku berkata aku tak mungkin bisa tanpa Ada-Nya yang memberi,
Bukankah aku ada dalam kerinduan yang hakiki,
       Meski aku tahu ada yang tak menerima kehadiran-Nya dalam diriku,
Sadar akan hakikat diriku adakah yang mengajakku mengerti arti hidup,
       Sungguh begitu pilu bila kutak tahu bagaimana sesungguhnya makna hidup,
Andaikan adanya adalah bagian dari Kehadiran-Nya,
       Mengapa aku tak juga mengerti akan apa yang semstinya kuperbuat,
Dahulu ketika aku dihidupkan aku merasakan ada yang mengabarkan Ada-Nya,
       Aku sungguh tak mengerti kenapa kini aku rindu tapi belum juga mau,
Andai saja kutahu manusia hanya sebagai asuhan ilham maka tak mesti begitu,
       Hidupku seolah tak mau tahu ada apa sesungguhnya,
Sedari aku sadar pasti kutak mungkin menjauh dari seharusnya,
       Sayang hidupku penuh dengan kepalsuan yang menyeretku tak mampu lawan,
Alangkah nestapa hidupku bila kuterus ikuti kemauan yang palsu,
      Manusia pandai tapi tak berarti ketika hidup bersama kenistaan,
Oh Tuhan, nasibku mengapa demikian,
      Adakah bagiku untuk mengharap Engkau jalani sebagaimana Kehendak-Mu?
Terlampau sulit bagiku andaikan tak ada yang mengajariku bagaimana hidup,
      Suasana jiwa terlampau mengajak kepada jalan yang penuh liku,
Jatah hidup sudah pasti lalu aku tak tahu,
      Bagaimana aku menerima kabarku sesudah jatahku menuju kepada-Nya,
Langkahku tak mungkin terus begini tanpa ada kekuatan yang menakjubkan,
      Kusadari itu walau gairah jiwa masih juga lalai mengubah gayaku,
Ke mana ku mencari sandaran bila ku mau jalani hidup yang seharusnya?
      Adakah jalan menembus dengan kesiapan mentalku?
Jumlah hari tak terhitung dengan sadar untuk ku berubah,
      Mengapa tak juga mengikuti jalan yang kupinta kepada-Mu,
Jihadku kepada-Mu tak buahkan hasil karena menderu rayuan iblis,
       Sungguh aku membutuhkan-Mu menekuk lidahnya yang pandai menipu,
Junjunglah aku dari lembah yang lupa akan kesucian,
       Tak mungkin bila diriku mesti mengangkat kecongkakan setan tanpa-Mu,
Inilah deritaku kukabarkan kepada Kekuasaan-Mu,
       Keluasan ampunan dan keridoan-Mu selalu kunanti,
Sebab diriku sudah teramat lesu untuk menggairahkan keniscayaanku,
       Sudahi kelemahanku yang seolah kemampuanku,
Bagaimanapun diriku, Engkau pasti Tuhanku,
       Ya Robbi aku berharap hidupku berada di dalam Kekuasaan-Mu

Selengkapnya
Read More